Waktu terus bergulir
Namun air mata tak pernah berakhir
Tak henti ku berdzikir
Memohon cinta Sang Pemberi takdir
Siang malam silih berganti
Namun aku masih saja tak mengerti
Arti menghambakan diri
Pada Tuhan yang berdiri sendiri
Aku sang pendosa
Tak henti bernafas dalam semesta
Teriak lantang dalam dada
Ingin ku lepas semua
Bersama angin malam yang menerpa
Seperti daun yang telah berguguran di sana
Jatuh dan tak pernah kembali
Tak ada lagi dosa yang kudapati
Namun, aku tak henti-hentinya
Terlena dalam dunia yang fana
Diriku semakin terbalut olehnya
Dosa yang tak pernah bisa
Aku hapus dengan setetes air mata
Bagaimana? Aku tak dapat berhenti
Menghentikan sang Atid mencatat sepanjang hari
Sedang Izrail menanti
Untuk membawaku kembali
Menemui Sang illahi
Cirebon, 12 Desember 2015
Puisi ini menjadi salah satu puisi terbaik dalam event lomba yang diadakan oleh Stepa Pustaka
Kamis, 28 April 2016
Puisi Baper WAw
Aku sang pendosa
Oleh: Nurkhotimah
Waktu terus bergulir
Namun air mata tak pernah berakhir
Tak henti ku berdzikir
Memohon cinta Sang Pemberi takdir
Siang malam silih berganti
Namun aku masih saja tak mengerti
Arti menghambakan diri
Pada Tuhan yang berdiri sendiri
Aku sang pendosa
Tak henti bernafas dalam semesta
Teriak lantang dalam dada
Ingin ku lepas semua
Bersama angin malam yang menerpa
Seperti daun yang telah berguguran di sana
Jatuh dan tak pernah kembali
Tak ada lagi dosa yang kudapati
Namun, aku tak henti-hentinya
Terlena dalam dunia yang fana
Diriku semakin terbalut olehnya
Dosa yang tak pernah bisa
Aku hapus dengan setetes air mata
Bagaimana? Aku tak dapat berhenti
Menghentikan sang Atid mencatat sepanjang hari
Sedang Izrail menanti
Untuk membawaku kembali
Menemui Sang illahi
Cirebon, 12 Desember 2015
Puisi ini menjadi salah satu puisi terbaik dalam event lomba yang diadakan oleh Stepa Pustaka
Waktu terus bergulir
Namun air mata tak pernah berakhir
Tak henti ku berdzikir
Memohon cinta Sang Pemberi takdir
Siang malam silih berganti
Namun aku masih saja tak mengerti
Arti menghambakan diri
Pada Tuhan yang berdiri sendiri
Aku sang pendosa
Tak henti bernafas dalam semesta
Teriak lantang dalam dada
Ingin ku lepas semua
Bersama angin malam yang menerpa
Seperti daun yang telah berguguran di sana
Jatuh dan tak pernah kembali
Tak ada lagi dosa yang kudapati
Namun, aku tak henti-hentinya
Terlena dalam dunia yang fana
Diriku semakin terbalut olehnya
Dosa yang tak pernah bisa
Aku hapus dengan setetes air mata
Bagaimana? Aku tak dapat berhenti
Menghentikan sang Atid mencatat sepanjang hari
Sedang Izrail menanti
Untuk membawaku kembali
Menemui Sang illahi
Cirebon, 12 Desember 2015
Puisi ini menjadi salah satu puisi terbaik dalam event lomba yang diadakan oleh Stepa Pustaka
Langganan:
Komentar (Atom)